Rakyat cerdas
KAMI TAK BUTUH PRESIDEN
Oleh : Misbahuddin
RAKYAT adalah pemilik kedaulatan tertinggi di negeri ini, Rakyat penguasa terbesar negeri ini.
PEMERINTAH sejatinya pembantu Rakyat, yang harusnya mengayomi dan melayani Rakyat.
Kontestasi Politik kotor sedang memperebutkan kursi pembantu rakyat. Berjuang memperebutkan 1 kursi pembantu dengan berdalih agama, seolah Tuhan tak tau mana yang benar mana yang salah, mana yang tulus dan mana yang bohong. Berbagai cara dilakukan demi kursi seorang pembantu, mengorbankan tauhid menggerakkan massa, menggunakan fasilitas Rakyat untuk membunuh rakyat, membuat aturan hanya untuk melancarkan misi. Beginikah Demokrasi yang kita impikan? Beginikah NEGARA KESEJAHTERAAN yang di canangkan pendiri bangsa? Yang menjadi tujuan negara? Yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945? 😥😠Menangis ku melelahkan air mata melihat betapa nenek moyang ku mengorbankan harta, darah dan bahkan nyawanya untuk bangsa ini namun anak cucunya merintih kelaparan mengemis dalam ketiak asing yang dilindungi pembantu rakyat yang dulu berjanji mewujudkan demokrasi Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat.
Haaii segenap Saudaraku masihkah engkau akan mengangkat seorang pembantu? Tidak kah engkau mampu mengelola rumahmu sendiri? Mereka yang telah engkau berikan kepercayaan mu telah menuntut lahan yang di kuasai pribumi. Lahan di kuasai Asing dibiarkan mulus tak dibendung, beginikah rakyat harus memilih pembantu yang tak berjuang untuk Tuannya,
Tanah di tempat kami 40% di kuasai Asing, masyarakat di tempat kami sedang di Landa krisis ekonomi namun lepas dari pengamatan pembantu kita hari ini, sebagian besar kehidupan kami bergantung pada hasil pertanian, namun sebagian besar lahan pertanian dimiliki asing. Rakyat kecil merintih, mengeluh, dan bahkan terancam akan tak bisa melanjutkan studi yang sejatinya sudah di amanatkan UUD. Bagaimana mungkin melanjutkan studi sedangkan makan pun mengemis dalam ketiak asing sebagai penguasa lahan.
Para kandidat calon pembantu rakyat sedang berlomba mendapatkan suara terbanyak demi mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin pelayan Tuanya (RAKYAT). Beribu janji berdasarkan atas nama Tuhan di lantunkan bagai mengobral ikan di pasar.
Untuk apa mengumbar janji, melantunkan kata, bergerak pencitraan yang sejatinya hanya menunjukkan kemunafikan dalam diri. Untuk apa mengangkat seorang pemimpin pelayan rakyat yang tidak melindungi dan mengayomi rakyat. Kontestasi politik yang sedang berlangsung hanyalah bunga demokrasi karena setelahnya rakyat akan tetap pada rutinitasnya mencari makan dan untuk kebutuhan hidupnya, sementara kandidat terpilih akan berjuang berbagi jabatan mengembalikan dana kampanye yang dikeluarkan dan mencari keuntungan dari jabatan yang diperoleh dari rakyat.
Rakyat hanyalah di sanjung dan disembah selama 4 bulan pada kontes lima tahunan ini. Untuk apa mengangkat presiden (pembantu rakyat) yang hanya menyengsarakan rakyat dengan kekuasaan yang tak berpihak pada rakyat. Rakyat tak mampu lagi membayar pembantu, rakyat harus bisa hidup mandiri.
RAKYAT HARUS JADI TUAN DI NEGERINYA SENDIRI
RAKYAT TAK BUTUH PRESIDEN
Komentar
Posting Komentar